Dampak Pergeseran Demografi: Ramai-Ramai Sekolah Negeri Mulai Kekurangan Siswa
Tahun ajaran baru kali ini diwarnai tren unik sekaligus mengkhawatirkan di beberapa daerah. Cukup banyak sekolah dasar (SD) hingga tingkat menengah atas (SMA), baik negeri maupun swasta, yang kesulitan menjaring siswa baru. Pengamat sekaligus aktivis pendidikan, Retno Listiarti, membeberkan beberapa pemicu utama di balik fenomena ini.
Faktor terbesar disebabkan oleh perubahan pola pemukiman warga. Banyak keluarga muda usia produktif yang tidak sanggup lagi membeli hunian di tengah kota dan memilih pindah ke daerah pinggiran. Akibatnya, sekolah-sekolah di area pusat kota seperti Jakarta Pusat, Solo, dan Yogyakarta justru kekurangan pendaftar.
Banyak orang tua yang kini bekerja kantoran cenderung memilih sekolah swasta berbasis agama (seperti SDIT) karena waktu belajar yang lebih panjang, sehingga bisa sekalian menitipkan anak dengan aman. Ditambah lagi, ada kecenderungan orang tua lebih mengutamakan kualitas ketimbang sekadar mengejar fasilitas sekolah gratis.
Kebijakan penggabungan beberapa sekolah yang kekurangan murid dinilai menjadi langkah yang bijak untuk efisiensi guru dan tata kelola instansi. Retno juga menyarankan agar gedung-gedung SD kosong hasil regrouping dialihfungsikan menjadi SMA atau SMK negeri yang jumlahnya saat ini dinilai masih sangat terbatas di berbagai wilayah.
Dikutip dari CNN Indonesia.